Contoh Kata Pengantar Buku

Kata Pengantar Buku

Dalam sebuah buku, di halaman pertama yang terlampir pastilah sebuah kata pengantar. Kata pengantar buku merupakan sajian atau latar belakang yang menggambarkan sedikit penjelasan mengenai isi suatu buku.

Kehadiran kata pengantar buku penting adanya dalam sebuah buku. Jika Anda bingung membuat kata pengantar buku, berikut adalah contoh kata pengantar dalam sebuah buku.

Kata Pengantar Buku

2 Contoh Kata Pengantar Buku

Contoh Pertama

PENGANTAR

Buku ini menyuguhkan dua tokoh penting dalam perkembangan sosialisme memiliki akar filsafat sebagai landasan memaknai sebuah gerakan.  Perbedaan akar filsafat pada pemikiran dua tokoh ini yaitu Marx dan Bakunin sehingga tidak terhindari konflik yang terjadi di antara mereka.

Dua tokoh ini tentu memiliki pengaruh pada dua aliran dalam tradisi sosialisme yaitu Marxisme dan Anarkisme. Buku ini secara jelas mengantarkan kita pada perbedaan cara berfikir di antara mereka. Maka tidak salah aliran Anarkisme akan sangat berbeda dengan Marxisme dan di sisi lain mereka bertemu pada pemaknaan terhadap Kapitalisme.

Anarkisme sebagai sebuah aliran yang juga sepakat dengan revolusi tidak hanya berpandangan bahwa agen revolusi lah yang dapat melakukan revolusi atau berkuasa untuk mengambil alih alat produksi.

Anarkisme juga berpendapat bahwa selain buruh, petani juga merupakan kelas yang potensi untuk menjadi agen revolusi, selain itu juga pengangguran dan criminal juga dapat menjadi agen revolusi.

Buku ini dengan jelas mengatakan bahwa Marx tidak pernah menyebutkan petani dan lumpenproletariat (pengangguran, criminal, rakyat jelata) sebagai agen revolusi pada cara berfikir Marx.

Buku ini menghadirkan perbedaan filosofis serta tradisi gerak diantara dua tokoh dan dua aliran filsafat yaitu Anarkisme dan Marxisme. Anarkis dan Marxis menyebut konsep-konsep seperti “sifat manusia” dan “kebebasan” mereka memiliki definisi masing-masing dan di suguhkan pula di dalam buku ini.

Secara landasan filosofis di antara kedua tokoh pun dibahas tuntas dalam buku ini. Seperti contoh mengenai perdebatan tentang siapa yang akan memimpin jalannya revolusi, Marx dan Bakunin berbeda, Marx menginginkan kelompok yang eksklusif seperti buruh sedangkan Bakunin mengajukan hal lain yang memiliki kesempatan yang sama yaitu petani dan lumpen proletariat.

Laju perkembangan kapitalisme global mengharuskan potensi alam harus dieksploitasi, pembangunan demi pembangunan adalah sebuah keharusan yang wajar dewasa ini. sebagai konsekuensi dari itu, maka tanah milik akan dirampas untuk membangun, jalan tol, hotel, pabrik semen, tambang.

Para petani yang memiliki tanah akan tercerabut sebagai petani dan mengalihkan pekerjaan menjadi buruh kasar. Negara hadir semakin kuat untuk mengusir rakyatnya demi mendapatkan tanah milik rakyat untuk di bantun kebutuhan ekonomi skala nasional yang tak berefek kepada rakyat kecil.

Kondisi ini jelas sudah kita sadari bersama, maka para petani juga dapat menjadi agen yang dapat memimpin jalannya revolusi atau setidaknya perlawanan.

Bagi aktivis kiri hari ini yang menggalang kekuatan petani dan telah sadar melihat potensi petani, tentu harus kita ucapkan terima kasih kepada Bakunin yang menjadi pemantik dalam melihat potensi para petani.

Akan tetapi tidak saja membaca potensi petani, Bakunin juga mengajukan langkah strategis dalam melawan atau memotong rantai kapitalisme atau setidaknya mengganggu kelancaran capital. Dengan melakukan aksi langsung seperti pemogokan, pendudukkan pabrik semisal, sebagai bentuk menolak pabrik beroperasi di tanah kita.

Melalui buku ini, pembaca bisa melihat beberapa kekurangan dari pemikiran Marx yang disebut oleh Bakunin sebagai pemikir yang otoriter.

Langkah ini perlu kiranya kita lakukan, semisal dengan melakukan sabotase dan aksi langsung sebagai metode yang perlu digunakan. Sebab mengingat kondisi perlawanan yang tak kunjung selesai dengan menunggu kebaikan negara yang tak mungkin, konfrontasi diperlukan untuk melawan gerak laju capital.

Terakhir, penulis mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang membantu proses penulisan buku ini

Dengan hadirnya buku sederhana yang menggunakan logika sederhana ini diharapkan mudah dibaca, mudah dicerna dan mudah dipahami dalam sebuah nalar yang sistematik.

Buku sederhana ini tentu masih banyak kekurangan karena itu kritik dan saran selalu kami harapkan.

Jakarta 26 Agustus 2013.

Penulis

Contoh Kedua

Sekapur Sirih

Bagaimana masyarakat bisa mengubah hidupnya secara radikal dengan cara yang lebih manusiawi dan rasional?

Pertanyaan tersebut mendasari seorang teoritis anarkis sosial (Murray bookchin) untuk mengembangkan gagasan ekologi sosialnya yang dikenal dengan Munisipalisme Libertarian.

Secara historis, gagasan demokrasi langsung ini telah dikembangkan oleh masyarakat Polis Athena pada pertengahan abad ke-5 sebelum masehi. Demokrasi “langsung” dalam Polis Athena merupakan tradisi yang dibangun di atas semangat partisipatif dalam komunitas. Musyawarah masyarakat hampir setiap minggu digelar untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada.

Perbedaan antara politik dan ke-Negara-annya secara sederhana ialah mendefinisikan politik sebagai usaha untuk menyelesaikan masalah sendiri secara mandiri melalui institusi partisipatif yang dibangun secara kolektif oleh warga berdasar kebutuhannya.

Sedangkan Dalam definisi Kenegaraan (statecraft) masyarakat di imajinasikan sebagai sekumpulan orang yang tidak mampu mengurusi masalah politik, dibuat sibuk untuk mengurusi urusan pribadinya, dan menjadi acuh dengan kondisi sosial sehingga mewakilkan kepengurusannya kepada Negara.

Hal ini dianggap berpotensi bagi keberhasilan Negara dalam upaya menjauhkan warga dari politik. Semakin warga menjauh dari politik, Negara akan semakin mudah menentukan hidupnya dengan sistem keterwakilannya,

Dalam menanggapi hal ini, Janet Biehl memposisikan gagasan munisipalisme libertarian menjadi sangat penting sebagai upaya alternatif mengembalikan politik ke basis sebenarnya, yaitu masyarakat beserta komunitasnya.

Namun penting untuk dipahami bahwa, gagasan yang dimaksud Bookchin bukanlah dalam kerangka konsep Negara-bangsa karena konsep Negara-bangsa menurut Bookchin merupakan institusi koersif yang bersifat memaksa dan tidak selaras dengan swakelola komunitas dan kehidupan sipil yang berkembang.

Hal ini menandai bahwa gagasan politik Munisipalisme libertarian ini merupakan antitesis dari demokrasi yang diciptakan oleh Negara-Bangsa.

Dalam isi buku Politik Ekologi Sosial ini setidaknya kita dapat menepis pandangan negatif tentang politik yang selama ini sering disalah pahami, kita disajikan dengan uraian-uraian penulis dalam menarasikan lebih deskriptif baik secara prinsip, konsep maupun praktik mengenai gagasan politik Murray Bookchin ini.

Pada bagian akhir buku ini berupa model dialogis antara penulis dan teoritisnya. Hal ini disadari penulis dalam menimbang perlunya penjelasan ringkas agar gagasan munisipalisme libertarian itu lebih mudah dipahami oleh pembaca umum.

Buku ini merupakan ringkasan langsung hasil uraian gagasannya melalui bimbingan dan wawancaranya dengan Bookchin secara langsung.

Pada akhirnya, sebagai sebuah gagasan politik, gagasan Bookchin dalam buku ini perlu menjadi perhatian serius dan wacana diskusi berlanjut.

Lalu kemudian dijadikan bahan eksperimen dengan pengalaman-pengalaman di tempat kita berada untuk menciptakan alternatif-alternatif rasional dan ikut serta dalam pertarungan wacana agar diambil sebagai intisari perjuangan demokrasi alternatif.

Selamat membaca sajian buku ini.

Jakarta, 23 Juni 2014

Penulis

Seperti itulah ulasan mengenai contoh dari kata pengantar buku, yang dikutip dari website Academic Indonesia. Semoga bermanfaat.